Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Untuk Raih Investment Grade S&P, Pemerintah Perbaiki Kesinambungan Fiskal

Untuk Raih Investment Grade S&P, Pemerintah Perbaiki Kesinambungan Fiskal. Pemerintah akan meningkatkan realisasi belanja modal yang mencerminkan belanja produktif investasi dan fiscal sustainability karena menjadi concern S&P. Dalam kunjungannya, S&P mengapresiasi perbaikan yang dilakukan dan menegaskan akan menaikkan peringkat jika pemerintah mampu mencapai target peningkatan kualitas belanja. 

Untuk Raih Investment Grade S&P, Pemerintah Perbaiki Kesinambungan Fiskal
Terkait kualitas belanja modal, pemerintah pun optimistis bahwa realisasi belanja modal dapat digenjot menjadi sekitar 30% (Rp 60,48 triliun) dari target APBN 2016 Rp 201,6 triliun. Pada kuartal I-2016, realisasi belanja modal baru sekitar 5% (Rp 10,2 triliun) dari target tahun ini namun meningkat drastis dari periode sama 2015 yang hanya 1,4% (Rp 3,9 triliun) dari target tahun lalu. Namun, dari sisi penerimaan, belum pastinya tax amnesty berpotensi menggangu penerimaan negara yang ditargetkan Rp 1.822,5 triliun dalam APBN 2016.

Pemerintah Berencana Untuk Merevisi Peraturan Pajak Penghasilan

Pemerintah Berencana Untuk Merevisi Peraturan Pajak Penghasilan

Pemerintah Berencana Untuk Merevisi Peraturan Pajak Penghasilan - Pemerintah berencana untuk menambah lapisan dan merevisi klasifikasi braket untuk pajak penghasilan untuk wajib pajak orang pribadi. Rencananya adalah untuk menambahkan 2 lapisan baru dengan menambahkan 10% dan 20% tarif pajak penghasilan. Menteri Keuangan juga menyatakan bahwa ia akan merevisi klasifikasi braket dengan menambahkan lebih banyak untuk membuat perbedaan kekurangan antara pendapatan. Misalnya, braket saat ini memiliki lapisan penghasilan tertinggi Rp 500 Juta, pemerintah dapat menambahkan lapisan lain untuk penghasilan di atas Rp 500 Juta. Namun, revisi pajak penghasilan masih dalam pembahasan di tengah peningkatan bertahap pendapatan kelas menengah.

Kembali Ditopang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI), cadangan devisa (cadev) Naik Jadi USD 107,7 Miliar

foreign exchange reserves

Kembali Ditopang SBBI, cadev Naik Jadi USD 107,7 Miliar - Posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia per akhir April 2016 tercatat USD 107,7 miliar, lebih tinggi 200 juta dolar AS dibandingkan posisi akhir Maret 2016. Peningkatan ini dipengaruhi penerimaan cadangan devisa (cadev) yang terutama berasal dari hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) dan penerimaan lainnya. Kenaikan cadangan devisa (cadev) akhir April melanjutkan tren kenaikan pada bulan sebelumnya. Februari, cadangan devisa (cadev) sebesar USD 104,5 miliar meningkat menjadi USD 107,5 miliar pada akhir Maret 2016. Posisi cadangan devisa (cadev) saat ini, cukup untuk membiayai 8,1 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.

Manajer Investasi Serap 65% Emisi Korporasi

Manajer Investasi Serap 65% Emisi Korporasi
Manajer Investasi Serap 65% Emisi Korporasi - Empat bulan tahun 2016 telah berjalan, manajer investasi agresif menyerap obligasi yang diterbitkan korporasi. Tercatat sebesar Rp 5,1 triliun dana manajer investasi masuk ke surat utang korporasi dengan komposisi 65% dari total Rp 7,8 triliun net-issuance obligasi korporasi YTD. Manajer investasi mencatatkan kenaikan penyerapan sebesar 80% YoY dari Rp 2,8 triliun pada periode yang sama. Minat yang tinggi juga terlihat dari investor asuransi yang membukukan net-inflow sebesar Rp 2,9 triliun hingga akhir April. 

Namun, berkebalikan dengan kedua investor domestik sebelumnya, minat investor asing masih rendah terhadap obligasi korporasi domestik. Setelah mencatatkan net-inflow sebesar Rp 246 miliar pada akhir Maret, investor asing berbalik mencatatkan net-outflow pada akhir April sebesar Rp 144 miliar. Hingga akhir April tercatat surat utang korporasi yang beredar bertambah Rp 7,8 triliun dengan catatan sebanyak Rp 18,7 triliun merupakan seri baru dan sebanyak Rp 10,9 merupakan obligasi yang telah jatuh tempo. Sektor multifinance dan perbankan masih mendominasi penerbitan obligasi korporasi hingga April yang mencapai 97% sedangkan 3% sisanya berasal dari sektor makanan & minuman yakni Siantar Top Tbk.

Gross domestic product (GDP) Tumbuh sebesar 4,92% di Kuartal 1 tahun 2016

Gross domestic product (GDP) Tumbuh sebesar 4,92% di Kuartal 1 tahun 2016
Gross domestic product (GDP) Tumbuh sebesar 4,92% di Kuartal 1 tahun 2016 - Ekonomi Indonesia di kuartal I 2016 tumbuh 4,92% atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 5,04% pada Kuartal 4 tahun 2015 dan juga lebih dibawah ekspektasi pasar yang sebesar 5,07%. Secara tahunan, ekonomi indonesia tahun lalu tumbuh 4,76% Year over year (YOY), terendah selama 2009. Menurunnya pertumbuhan GDP di kuartal I ini akan meningkatkan tekanan Bank Indonesia untuk kembali menurunkan suku bunga setelah diturunkan tiga kali berturut-turut tahun ini yang sekarang berada di level 6,75%.

Realisasi Investasi Kuartal I Tumbuh 17.6%

Realisasi Investasi Kuartal I Tumbuh 17.6%
Realisasi Investasi Kuartal I Tumbuh 17.6%. Realisasi investasi langsung baik dari asing maupun domestik pada kuartal I dilaporkan tercatat sebesar Rp146,5 triliun atau tumbuh hingga 17,6% dari kuartal sebelumnya. Pencapaian tersebut telah berhasil menciptakan 327,170 pekerjaan baru. Tahun ini, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan realisasi investasi langsung sebesar Rp 595 triliun.